Pesantren jauh dari feodalisme seperti yang di persepsikan oleh sebagian kalangan dari luar pesantren.
Asumsi mereka berdasar melihat penghormatan ketertundukan para santri kepada kiainya yang seakan ada kelas kelasan, kelas tuan dan kelas budak.
Untuk meluruskan pandangan tersebut tidak perlu repot repot, karena kesimpulan tersebut adalah timbul dari kekeliruan analis.
Feodalisme adalah bentuk penindasan dari kalangan bangsawan yang punya banyak modal materi terhadap kalangan bawah, para pekerja, para kuli, sehingga automatis si pekerja itu menjadi sangat menghormati, ngemis ngemis, ngesot ngesot kepada si pemilik modal, dan si pemilik modal tersebut berkuasa dengan semena mena dalam lingkup sosial politik monopoli terhadap para pekerja, sangat jauh dari humanisme.
Apakah dunia pesantren seperti itu?
Adalah kebodohan jika menganggap penghormatan yang dilakukan para santri kepada kiainya adalah bentuk feodalisme dan diskriminasi, penghormatan itu proporsional bukan pukul rata, dan itu sama sekali tidak bertentangan dengan nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin dan demokratis. Bahkan kadang seorang kiai yang sangat tawadhuk lebih suka mengajar santrinya adab terhadap orang tua daripada mengajari tentang adab kepada kiainya.
Di Pesantren tidak ada praktek pembunuhan nalar dan ataupun doktrin memandulkan naluri kritis santri, tetapi memang metodologi pendidikan di pesantren itu mendahulukan adab daripada ilmu, santri di ajari mempraktekkan adab sembari diberi ilmu, santri di doktrin cara berfikir yang benar dan sehat serta dalil naqli dulu sebelum di beri kebebasan berfikir dan menciptakan inovasi atau terobosan positif dalam memecahkan berbagai masalah fenomena yang berkembang dalam lingkup masyarakat kekinian, bahtsul masa'il adalah wujud progresifitas dan kritisisasi dari para santri.